Deklarasi STBM, Antara Prestasi Vs Prestise
Cari Berita

Advertisement

Deklarasi STBM, Antara Prestasi Vs Prestise

Senin, 01 April 2019


Dompu, 19bersatu.com-- Deklarasi 5 (lima) Pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat  (STBM) di Kabupaten Dompu telah dilaksanakan di sejumlah desa dan kelurahan yang ditandai dengan penyerahan piagam Deklarasi STBM kepada sejumlah Kepala Desa pada HUT Kabupaten Dompu ke 203 tahun 2018 lalu.
Pada HUT Kabupaten Dompu ke 204 tahun 2019 ini akan ada sejumlah desa lagi yang akan dideklarasikan sebagai Desa STBM.
Ketua Forum Pengusaha Sanitasi (For-PaS) Kabupaten Dompu, Rudi Purtomo mengatakan bahwa Deklarasi STBM hendaknya merupakan suatu prestasi atas perjuangan ekstra keras di dalam mewujudkan pencapaian 5 Pilar STBM dan bukan hanya sekedar meraih prestise.

Penerima AMPL Award 2017 dari Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Ketua Bappenas RI ini menerangkan bahwa syarat utama untuk Deklarasi STBM, yaitu lulus verifikasi 5 Pilar dengan hasil : Pilar 1 harus 100% (tidak ada lagi yang BABS atau seluruh masyarakat memiliki akses ke jamban. Sedangkan 4 Pilar yang lain yakni CTPS, Pengolahan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga, Pengamanan Sampah Rumah Tangga, serta Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga sudah cukup dengan capaian  minimal 30%.
Dan 2 tahun pasca deklarasi menjadi PR besar bagi masyarakat dan Desa/Kelurahan tersebut untuk menyelesaikan dari akses menjadi kepemilikan (Pilar 1), serta sisa 70% dari 4 pilar yang lain.
"Kalau tidak, maka status deklarasi bisa dicabut," ucapnya.

Mas Pur, panggilannya mengilustrasikan makna deklarasi STBM, sama persis dengan Proklamasi  Kemerdekaan bagi sebuah negara.
Proklamasi adalah suasana keharubiruan dalam mensyukuri sebuah proses panjang yang dinamakan perjuangan.
"Para pendiri negara kita, menolak dengan sangat tegas ''hadiah'' kemerdekaan yang ingin diberikan oleh penjajah. Kaena memang selama ratusan tahun telah juta'an syuhada gugur memperjuangkan untuk mencapai kemerdekaan," paparnya.
Ditegaskannya Deklarasi STBM janganlah sekedar ''hadiah" berupa piagam penghargaan Deklarasi STBM atau penyematan sebuah lencana tetapi hendaknya merupakan hasil dari rangkaian perjuangan yang sangat gigih.
"Penting untuk selalu diingat kata - kata Bung Karno "Sang Penyambung Lidah Rakyat" bahwa memperjuangkan kemerdekaan itu memang tidak gampang, tetapi yang jauh lebih sulit lagi adalah mempertahankan dan mengisi kemerdekaan," tandasnya.

Apa kita yakin bahwa sudah tidak ada lagi masyarakat yang  Buang Air Besar Sembarangan di Desa/Kelurahan tersebut ?
Apakah bisa dijamin dari sekian anggota keluarga yang tidak memiliki jamban, semuanya memiliki akses ke jamban umum..??
Percayakah kita bahwa seluruh anggota keluarga yang tidak memiliki jamban itu pasti numpang berak ke rumah tetangga yang punya jamban ? Apakah bisa dijamin bahwa tidak   ada lagi "pup" yang nangkring di kebon, sungai, gunung,  dan pasir yang  saat Tim Verifikasi turun, pup itu dibungkus dengan sangat rapi dalam sebuah mimpi "prestise". Bahkan seluruh kekuatan dikerahkan hanya untuk hari itu saja untuk bersih-bersih," katanya.
Ditambahkannya deklarasi STBM  hakekatnya merujuk pada perubahan  perilaku masyarakat dalam menerapkan 5 Pilar penting untuk kesehatan bersama secara berkesinambungan yang dikawal mulai dari proses pemicuan, monitoring, sampai pada pendampingan karena  panggilan hati nurani oleh kader - kader yang dibentuk khusus ataupun dengan kekuatan institusi melalui instruksi - instruksi maupun peraturan - peraturan khusus pula.
Hingga pada akhirnya tercipta kondisi ideal masyarakat yang hidup higieny dan saniter karena terbebas dari penyakit - penyakit berbasis lingkungan yang sangat mematikan seperti diare, ISPA, Gizi Buruk dan demam berdarah. Sekaligus mendukung program pencegahan stunting, dan menciptakan generasi - generasi yang kuat dan tangguh.
Itulah "Prestasi" sejati yang selayaknya diharubirukan dalam rasa syukur yang mendalam dengan atau tanpa euforia deklarasi sekalipun.
"Jangan sampai deklarasi hanya akan menjadi bumerang seperti deklarasi yang sudah - sudah.
Begitu kita nekad menyodorkan pita deklarasi untuk digunting, maka yakinkan diri bahwa memang warga sudah mulai terbiasa hidup bersih dan sehat yang ditandai dengan tidak ada lagi kotoran manusia yang dibuang sembarangan, masyarakat sadar akan pentingnya Cuci Tangan Pakai Sabun, Minuman dan Makanan diolah sesuai standard higienitas, serta dilakukan Pengamanan terhadap Sampah dan Limbah Cair Rumah Tangga hingga tidak menjadi sarang bagi pembunuh kejam yang mengintai kaum rentan bahkan menjadi penyebab jatuh miskin saudagar kaya sekalipun," ucapnya.
Selanjutnya, yang menjadi "roh" dari maju/mundur serta sukses dan tidaknya Program STBM adalah masyarakat.
Jadi sepantasnyalah masyarakat diposisikan sebagai subjek, dan bukan objek. Hingga yang paling layak untuk naik podium dan diberikan penghargaan tertinggi saat deklarasi, adalah masyarakat  itu sendiri.(AMIN)