Kadis Dikpora Dompu Sebut UU PA Merusak Moral Generasi
Cari Berita

Advertisement

Kadis Dikpora Dompu Sebut UU PA Merusak Moral Generasi

Sabtu, 13 April 2019


Dompu,  19bersatu.com-- Undang-Undang RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak merusak moral anak bangsa.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Dompu, H. Ikhtiar,  SH dalam acara rapat koordinasi terkait penanggulangan kasus bunuh diri di Kabupaten Dompu yang dilaksanakan di Gedung PKK Kabupaten Dompu,  Jum'at (12/4) yang dihadiri pula oleh Asisten Deputi (Asdep) Pemenuhan Hak dan Perlindungan Anak dari Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI, Marwan Syaukani  serta pejabat dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  (P3A) RI, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana  (DP3AP3KB) Provinsi NTB, Drs. H. Imhal.

Menurut Ikhtiar siswa kerap berani bertindak kelewat batas terhadap guru karena merasa dilindungi oleh UU PA itu.
Sebaliknya guru tidak berani berbuat banyak selain menjalankan tugasnya mengajar. Karena takut melanggar peraturan tersebut.
Apalagi orang tua juga kerap melabrak guru di sekolah bila guru dilaporkan mencubit, menjewer atau memukul siswanya.
"Kalau guru keras orang tua bertindak," ujarnya.
Ditegaskan Ikhtiar tugas guru bukan hanya mengajar. Tetapi guru juga bertanggungjawab mendidik. Tetapi dengan kondisi demikian, para guru saat ini hanya sekedar menjalankan perannya mengajar dan tidak lagi mendidik.
"Karena yang namanya mendidik itu membentuk kepribadian adakalanya juga harus memukul kakinya atau mencubit tangannya memberi pelajaran," ungkapnya.

Menurutnya keadaan semacam ini mengakibatkan proses pendidikan tidak bisa berjalan semestinya yang berdampak buruk pada para siswa itu sendiri. Para siswa akhirnya sulit diatur. Efeknya juga sampai di rumah. Anak seringkali  membantah pada perintah orang tuanya dan hilang rasa hormat kepada orang tua. Akhirnya susah diarahkan dan bertindak semaunya tanpa ingin dinasihati dan diingatkan oleh orang tuanya.
Dilanjutkan Ikhtiar, gaya hidup masa kini juga berdampak buruk terhadap karakter anak. Melihat teman-temannya memiliki sepeda motor baru atau hp android baru akhirnya menuntut kepada orang tuanya agar dibelikan pula. Padahal orang tua belum memiliki uang untuk membelinya. Karena tidak dituruti akhirnya nekat mencari jalan pintas bunuh diri.
"Sebagai solusinya adalah pendidikan keluarga. Pendidikan keluarga itu penting wajib dilakukan," ujarnya.
Dikatakannya pendidikan keluarga itu bukan hanya difokuskan pada anak tetapi juga ditujukan kepada orang tua agar peka terhadap persoalan yang dihadapi anaknya.
"Di sekolah-sekolah saya akan siapkan ruang khusus pendidikan keluarga. Orangtua diundang sebulan sekali untuk menghadiri tapi mohon dibantu dengan anggaran," ucapnya.
Ikhtiar juga menyarankan agar kegiatan magrib mengaji diaktifkan di Masjid - masjid agar generasi muda memiliki keimanan dan ketaqwaan yang kuat yang bisa membentengi dirinya dari pengaruh - pengaruh negatif yang dapat merasuki jiwanya. (AMIN)