Pacuan Kuda, Hiburan Rakyat yang Tetap Digemari
Cari Berita

Advertisement

Pacuan Kuda, Hiburan Rakyat yang Tetap Digemari

Selasa, 09 April 2019

Dompu,  19bersatu.com-- Olahraga balap kuda  (pacu kuda) merupakan acara hiburan rakyat di Pulau Sumbawa yang sangat terkenal sejak zaman dulu.
Hingga kini atraksi balapan kuda yang menampilkan aksi lincah para pejoki cilik ini masih tetap digemari oleh masyarakat. Sehingga tidak heran bila ada perhelatan pacuan kuda selalu dipadati penonton.
Seperti pada kompetisi balap kuda yang digelar di Stadion Lembakara  Lepadi Dompu pada final, Rabu (10/4).
Diperkirakan ribuan penonton menyaksikan langsung hari penentuan bagi kuda - kuda yang berlaga di stadion kebanggaan masyarakat Dompu itu. Penonton memadati di sepanjang batas garis lintasan bagian barat. Bahkan panitia dari rumah tinggi beberapa kali mengingatkan penonton yang merangsek memasuki area lintasan kuda. Aparat keamanan dari TNI dan Polri selalu bersiaga melakukan pengamanan.
Sorak - sorai penonton maupun pemilik kuda membahana saat kuda mulai terdengar sejak kuda dilepas di box start.   Apalagi saat kuda - kuda yang berlaga itu hampir memasuki garis finish.
Begitu pula para pemilik kuda begitu antusias untuk mengikuti kejuaraan berkuda dalam rangkaian Festival Pesona Tambora 2019 dan NTB Gemilang ini.
Ketua Pordasi Kab. Dompu, M. Amin, S. Sos
Kuda - kuda yang berlaga ini bukan hanya milik para penggemar kuda dari Bumi Nggahi Rawi Pahu Kabupaten Dompu  saja tetapi juga berasal dari Kabupaten dan kota se Pulau Sumbawa. Ada pula yang dari Kota Mataram dan dari Pulau Sumba Nusa Tenggara Timur (NTT). Bahkan ada juga milik penghobi kuda dari Kota Bogor Jawa Barat.
Aksi lincah para joki cilik merupakan hal yang paling menarik perhatian penonton. Hal ini bisa dimaklumi karena para joki ini adalah bocah - bocah yang masih sangat belia. Usia ada yang masih 10 tahun, 12 tahun bahkan ada yang masih 7 tahun.
"Anak saya ini masih kelas 1 SD," kata Syarif asal Tonggorisa Bima yang mendampingi anaknya Khaeruddin yang menjadi pejoki.
Sementara itu Ketua Persatuan Olahraga Berkuda Indonesia  (Pordasi) Kabupaten Dompu, M. Amin, S. Sos mengungkapkan bahwa menjadi joki memang unik. Karena itu merupakan profesi  turun - temurun.
"Ayah dan kakeknya dulu adalah para pejoki juga. Ini profesi turun temurun," ungkapnya.
Sebagai informasi kejuaraan pacuan kuda di Stadion Lembakara ini akan ditutup oleh Gubernur NTB, DR. Zulkieflimansyah sekitar pukul 13. 00 Wita. (AMIN)