Tentang Joki Cilik, Ini Penuturan Abah Abdul Jabbar
Cari Berita

Advertisement

Tentang Joki Cilik, Ini Penuturan Abah Abdul Jabbar

Minggu, 14 April 2019


Dompu, 19bersatu.com--Joki berasal dari bahasa Inggris jockey ialah seseorang yang memacu kudanya dalam suatu pertandingan pacuan kuda, biasanya sebagai profesi. Orang Dompu dan Bima menyebutnya dengan istilah juki.
Keberadaan para pejoki ini selalu menyedot perhatian tersendiri dari para penonton.
Selain karena usia mereka yang masih sangat belia (masih sekitar 7-10 tahun), juga dikagumi keberanian, ketangkasan dan kelincahannya memacu kuda sehinggga  melesat secepat kilat. Tubuh-tubuh mungil itu begitu lengket dengan punggung kuda-kuda berukuran tinggi besar itu. Padahal tidak menggunakan pelana sama sekali.
Salah satu pemilik kuda pacuan di Kabupaten Dompu, Drs. Abdul Jabbar mengungkapkan secara blak-blakan tentang sejumlah informasi yang berhubungan dengan latar belakang dan kehidupan joki-joki cilik itu hingga terkait pendidikan dan keselamatan mereka.
Diungkapkan Abdul Jabbar, para joki kuda,  umumnya adalah memiliki bakat alam karena faktor keturunan. Kebiasaan sehari-hari bergelut dengan kuda sejak masih balita membentuk mereka untuk menjadi penunggang kuda hebat.
"Anak-anak yang menjadi joki kuda itu bapaknya joki, kakeknya juga dulunya joki. Memang mereka keturunan joki," ungkapnya.
Joki-joki kuda, umumnya memiliki kuda atau dekat dengan orang-orang yang memiliki kuda pacu. Sejak lahir mereka sudah menyatu dengan kuda. Saat kuda dimandikan di sungai, mereka turut mandi bersama kuda-kuda itu.
"Mereka belajar menunggang kuda di atas air, menunggang di lumpur,  menunggang di darat dan kemudian dituntun menunggang di lapangan pacuan," ujar mantan Kepala SMKN 1 Woja ini.
Para joki cilik ini dituntun oleh seseorang yang sudah mahir dan dengan menggunakan kuda khusus untuk berlatih.
"Tidak semua kuda bisa digunakan untuk melatih juki. Ada kuda tertentu ketika jokinya jatuh dia berhenti," tuturnya.
Setelah mahir, katanya para joki cilik ini sudah bisa menunggang kuda-kuda beringas di arena balap kuda.

Seorang bocah yang sudah terbentuk oleh alam dan karena faktor keturunan di atas, biasanya meminta diri untuk menjadi joki karena dorongan jiwanya sendiri yang sudah menyatu dengan kuda tanpa paksaan dari siapapun. Hasratnya begitu kuat untuk menjadi seorang joki karena kehidupannya tidak bisa dipisahkan dengan kuda.
"Mereka sendiri yang minta untuk menjadi juki bukan diminta," ucapnya.
Selain itu, restu ibu juga harus dimiliki oleh seorang joki.
"Harus ada restu ibunya. Hubungan emosional antara anak dengan ibunya memantapkan keyakinan anak menjadi juki. Kalau tidak ada restu ibu, seorang anak tidak bisa menjadi juki. Atau sebaliknya ada restu ibu tetapi anaknya tidak mau juga tidak bisa," urainya panjang lebar.

Hebatnya lagi, lanjutnya  para joki cilik ini bisa menunggang beberapa ekor kuda di dalam sebuah arena pertandingan. Walaupun kuda-kuda itu baru sekali atau dua kali dinaikinya.
Kuda ratusan ekor dari berbagai daerah hanya menggunakan belasan joki saja.
Terkait imbalan yang diberikan kepada joki, pemilik kuda poni yang dilelang untuk Rohingya ini menyebutkan tergantung pemilik kuda. Setiap bulannya, pemilik kuda memberikan honor yang bervariasi antara Rp. 250 ribu hingga Rp. 750 ribu. Mereka juga dibayar per-pacuan oleh pemilik kuda.
"Kalau saya sendiri, yang menjadi joki saya adalah keluarga atau keponakan saya sendiri. Saya kasih anak kuda, hasilnya buat dia sendiri," katanya.
Pemilik beberapa ekor kuda antara lain bernama Meci Angi (Mengi) dan Awan Putih (Apu) ini menuturkan para joki cilik ini semuanya bersekolah di sekolah dasar di tempat tinggal masing-masing. Diakuinya setiap pelaksanaan pacuan kuda, anak-anak itu meminta izin tak mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolahnya masing-masing.
Pada akhir 2017 lalu di Stadion Lembakara Desa Lepadi, bekerja sama dengan pemerintah Australia telah meluncurkan Program Inovasi (inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia yang bernama sekolah Bersama (Belajar Bersama Masyarakat) sehingga anak-anak yang menjadi joki tetap bisa mengikuti pembelajaran meski tidak di bangku sekolah.
Untuk keselamatan para joki ini, juga tak luput dari perhatian Abdul Jabbar.
Penghoby kuda ini merasa iba dan prihatin bila ada joki yang terjatuh dari kuda dan mengalami cedera. Ia berpikir perlu didesain khusus pakaian yang dapat menjadi body protector (pelindung badan) dan memberikan safety (keamanan) bagi para joki belia ini. Selain itu tidak mengganggu gerakan mereka saat menunggang kuda pacuan di arena pertandingan. Setidaknya seperti pakaian yang dikenakan para crosser motorcross. "Seperti crosser itu safetynya cukup bagus tapi tidak mengganggu aktifitasnya dalam berjoki. Kalau saya dipercaya oleh Pordasi (Persatuan Olahraga Berkuda Indonesia) Kabupaten Dompu untuk pengadaannya saya siap demi keselamatan anak-anak kita yang menjadi juki," pungkasnya. (AMIN).
(Berita ini pernah dimuat di koran Metro Dompu pada edisi 8 November 2017 dengan perubahan seperlunya).